Tips Mengkonsumsi Konten Media Massa

Pesatnya pertumbuhan teknologi berbanding lurus dengan perkembangan media yang ada, begitu yang disampaikan Jose De Venecia dalam Forum ICAPPs di Seoul beberapa waktu lalu. Hal ini tentunya sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Jika dahulu masyarakat mengandalkan surat kabar sebagai informasi, kini telah banyak platform media elektronik yang juga dapat memuaskan masyarakat akan kebutuhan informasi. Salah satunya media online.

Kehadiran media online bisa dibilang cukup masif di Indonesia. Bahkan dalam publikasi yang dikeluarkan Dewan Pers, Joseph Stanley menyebutkan perkembangan media online di Indonesia tumbuh bak jamur. Dalam publikasi yang sama tercatat lebih dari 2000 media online aktif beroperasi di Indonesia.

Rasanya hal ini menjadi wajar karena percaya atau tidak, membuat platform media di internet sangatlah mudah dan tidak memerlukan modal yang besar seperti media penyiaran atau media cetak. Siapapun bisa menciptakan ‘media onlinenya’ sendiri, asal niat.

Beberapa tahun lalu saya mengambil mata kuliah jurnalisme online yang mewajibkan mahasiswa untuk menciptakan media online miliknya. Meski tidak diwajibkan untuk menyewa hosting dan domain, tapi tampilan ‘media online’ ciptaan kawan-kawan di kelas saya bisa dibilang memiliki tampilan yang bagus bak media online kawakan nan kredibel.

Ya, kemudahan dalam penciptaan media online dapat dimanfaatkan orang-orang untuk mendukung kreativitas dan hobinya. Misal Japanese Station yang banyak menjadi rujukan para pecinta hal-hal berbau Jepang. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Sayangnya kemudahan yang ada dimanfaatkan beberapa oknum untuk menyebarkan suatu hal yang tidak baik, seperti Saracen misalnya.

Meskipun semua orang memiliki hak untuk menciptakan media massa miliknya sendiri, tapi jangan lupa untuk mengikuti rambu-rambu yang diterapkan di Indonesia: undang-undang, ketetapan organisasi pers, dan kode etik yang berlaku. Dan yang paling penting jangan lupakan fungsi pers yang telah diamanatkan undang-undang.

Memilih bacaan media adalah koentji

Menjamurnya media online yang ada di Indonesia pastinya menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai konsumen. Di satu sisi kita diuntungkan dengan beragam informasi yang ditawarkan, di sisi lain kita jadi bingung media mana yang bisa dijadikan pegangan.

Satu hal yang penting dilakukan kita sebagai konsumen sebelum melahap habis informasi yang ada adalah memeriksa kebenaran konten tersebut.

Kita sebagai manusia dibekali kemampuan intuitif oleh Tuhan Yang Maha Baik. Tugas kita selanjutnya adalah mengasah kemampuan tersebut agar mumpuni. Jika dirasa informasi yang kita dapatkan aneh, jangan langsung dilahap, apalagi disebar. Baiknya luangkan waktu untuk mencari sumber lain yang membahas isu serupa di internet.

Selain mencari konten serupa di media lain, kita sebagai konsumen juga perlu jeli melihat media yang menjadi bahan konsumsi kita.

Sebagai mahasiswa jurnalistik saya gondok dengan pernyataan “media sekarang tukang tipu, beritanya ga mutu.” Hei, tidak semua bisa digeneralisasi seperti itu, bung. Lantas kamu ingin mengkonsumsi informasi dari mana? Pesan siar yang tersebar di Whatsapp atau status orang lain di Facebook yang bahkan kamu sendiri tidak kenal?

Mari saya cerahkan.

Gedung Dewan Pers Republik Indonesia
Gedung Dewan Pers (Sumber foto: Batamnews)

Dewan Pers sejak beberapa tahun lalu mendata perusahaan-perusahaan media yang beroperasi di Indonesia. Untuk masuk ke database milik Dewan Pers ini bisa dibilang tidak mudah, banyak syarat yang harus dipenuhi. Oleh karenanya, saya yakin perusahaan-perusahaan media yang berpredikat ‘terverifikasi administrasi dan faktual’ di sini adalah perusahaan media yang kredibel dengan konten-konten yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Mari kita analogikan otak sebagai sebuah perut. Kalau kamu terus mengonsumsi makanan yang tidak baik, ya otomatis perutmu akan rusak. Begitu juga kalau kamu tiap hari bacain tulisan hoax, kamu bakalan rusak. Selain bawaannya kesel mulu, kamu juga bakal jadi anak paling engga asik di tongkrongan.

Jadi masih pengen baca dan share berita ga bener?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: